Cara Menghitung Zakat Penghasilan Yang Wajib Hukumnya

Cara Menghitung Zakat Penghasilan Yang Wajib Hukumnya

aocrp-4.org – Cara Menghitung Zakat Penghasilan Yang Wajib Hukumnya.Zakat penghasilan merupakan zakat yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan atau penghasilan. Lantas, bagaimana ya cara menghitung besaran zakat penghasilan? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini biar nggakbingung lagi.

Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang termasuk kategori penghasilan adalah gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal. Bentuknya bisa penghasilan rutin seperti yang diperoleh pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti pengacara, konsultan, dan sejenisnya. Juga pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Syarat dan Nisab Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan atau biasa dikenal juga dengan istilah zakat profesi dikeluarkan dari pendapatan yang diterima apabila telah memenuhi syarat. Adapun syarat untuk menunaikan zakat profesi ini yaitu beragama Islam, merdeka, berakal sehat, baligh, serta sudah mencapai nisab (maksudnya pendapatan tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan hukum syariat).

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait zakat profesi ini. Itulah sebabnya, terdapat tiga pendekatan yang digunakan dalam penentuan penghitungan nisab dan kadar zakatnya.

Pertama, zakat profesi dianalogikan pada zakat emas-perak dan perdagangan. Kedua, dianalogikan pada zakat pertanian. Ketiga, dianalogikan pada dua hal sekaligus (qiyas syabah), yaitu nisab pada zakat pertanian dan kadar pada zakat emas dan perak.

Cara Menghitung Zakat Penghasilan Menurut Ulama Kontemporer

Ulama kontemporer Dr. Yusuf Al-Qaradawi menganalogikan zakat profesi dengan zakat emas-perak. Sehingga, nasab yang menjadi acuan adalah 85 gr emas. Artinya, jika seseorang memiliki akumulasi penghasilan selama satu tahun senilai 85 gr emas atau bahkan lebih, maka wajib baginya mengeluarkan zakat penghasilan.

Melansir laman Dompet Dhuafa, ada tiga cara untuk menghitung zakat tersebut menurut Yusuf Al-Qaradawi.

1. Perhitungan Pengeluaran Bruto

Pengeluaran bruto maksudnya adalah mengeluarkan zakat dari penghasilan utuh. Pendapatan yang diperoleh tidak dikurangi kebutuhan apapun, langsung dihitung nisab dan kadar zakatnya selama setahun.

Contoh: Pak Salman mendapat gaji dalam sebulan sebesar 20 juta. Dimisalkan harga emas 1 gram 800 ribu, maka nisab emas seberat 85 gram adalah 68 juta rupiah.

Total gaji Pak Salman selama setahun 240 juta, berarti telah mencapai nisab. Maka zakat penghasilannya langsung dihitung 2,5% dari total pendapatan selama satu tahun.

 

Cara Menghitung Zakat Penghasilan Yang Wajib Hukumnya

 

(20 juta x 12 bulan) x 2,5% = 240 juta x 2,5% = 6 juta

Zakat penghasilan yang harus dibayarkan oleh Pak Salman selama satu tahun senilai 6 juta rupiah.

2. Perhitungan Pengeluaran Biaya Operasional

Adapun cara kedua adalah pemasukan utuh dikurangi dengan beban operasional bekerja. Seperti biaya transportasi dan konsumsi harian di tempat kerja. Kembali ke contoh Pak Salman, semisal biaya operasional kerja untuk membayar tol, bensin, dan konsumsi sebesar 2 juta rupiah.

Maka, perhitungan zakatnya yaitu:

[(gaji utuh – biaya operasional) x 12 bulan] x 2,5% = [(20 juta-2 juta) x 12 bulan] x 2,5% = (18 x 12) x 0,025 = 5,4 juta.

Zakat yang wajib dibayarkan Pak Salman sebesar Rp5.400.000 per tahun.

3. Perhitungan Zakat Bersih

Apabila Pak Salman memiliki tanggungan yang harus dibiayai, maka perhitungan zakat penghasilannya dapat menggunakan cara yang ketiga, yaitu zakat bersih.

Nilai pendapatan bersih setelah dikurangi kebutuhan pokok sehari-hari, membayar utang, dan membiayai tanggungan. Jika setelah dikurangi tidak mencapai nisab, maka tidak diwajibkan membayar zakat penghasilan.

Bila menggunakan cara ketiga, maka cara perhitungannya, total gaji Pak Salman 20 juta. Biaya operasional kerja 2 juta, kebutuhan anak dan istri sebesar 9 juta, serta cicilan sebesar 2 juta.

Sisa gaji bersih Pak Salman sebesar 20-2-9-2 = 7 juta

Maka zakat penghasilannya sebesar 7 juta x 12 x 2,5 % = Rp2.100.000 per tahun, atau 175.000 per bulan.

 

Dibuat oleh – Cahyono Aocrp-4.org

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *