Kisah Sedih Tenaga Medis Positif Covid-19

Kisah Sedih Tenaga Medis Positif Covid-19

aocrp-4.org – Kisah Sedih Tenaga Medis Positif Covid-19. Kisah para petugas medis dalam perjuangannya berhadapan dengan covid-19 cukup beragam. Di Jawa Tengah (Jateng), puluhan tenaga medis dari mulai dokter, perawat hingga tenaga keamanan rumah sakit harus mengalami beban berat tertular virus mematikan setelah menangani pasien positif covid-19.

Perjuangan tanpa kenal lelah dan bertaruh nyawa untuk kesembuhan pasien positif covid-19 dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri. Namun, di sisi lain, perlakuan menyakitkan harus dialami oleh tenaga medis. Contohnya pengusiran dari tempat kos seperti yang terjadi di Surakarta atau pengucilan keluarga oleh warga kepada para medis di Blora hingga penolakan pemakaman di Swakul, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Kisah Dian, pegawai bagian rekam medis di sebuah rumah sakit di Jateng cukup menyentuh hati. Dia dinyatakan positif covid-19 usai merawat pasien covid-19.

 

Kisah Sedih Tenaga Medis Positif Covid-19

 

“Hari itu saya menerima seorang pasien di rumah sakit yang memiliki keluhan penyakit batuk-batuk. Saya sempat merawatnya sekitar 15 menit hingga pasien itu masuk ruang isolasi untuk perawatan,” kata Dian.

Kira-kira lima hari kemudian, lanjutnya, dia merasakan demam. “Suhu tubuh saya mencapai 39,9º Celsius dan tenggorokan nyeri disertai batuk yang tidak tertahan,” ungkapnya.

Namun, Dian tetap memaksakan kerja seperti biasa. Hingga akhirnya, tiga hari setelah itu, dia pingsan dan pasien yang sempat kontak dengannya dinyatakan positif covid-19.

Mengetahui pasien positif covid-19, Dian melakukan pemeriksaan swab test. “Hasilnya positif covid-19 dan saya harus menjalani perawatan dan karantina. Saya syok, tapi hanya bisa pasrah,” imbuhnya.

Tanpa sepengetahuan keluarga, Dian menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit hingga kemudian dinyatakan membaik.

Hingga akhirnya, Dian diminta untuk melakukan isolasi sendiri di rumah. Dian juga harus menghindari kontak dengan anak semata wayang berusia dua tahun dan keluarga lainnya. Maka, Dian memilih untuk mengisolasi diri di rumah orang tuanya.

 

 

Dibuat oleh – Cahyono Aocrp-4.org

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *