Pengakuan 3 Guru SMPN 1 Turi yang Digunduli Polisi

Pengakuan 3 Guru SMPN 1 Turi yang Digunduli Polisi

Aocrp-4.org – Pengakuan 3 Guru SMPN 1 Turi yang Digunduli Polisi, Tindakan polisi yang menggunduli tiga guru SMPN 1 Turi, Sleman, yang menjadi tersangka peristiwa Susur Sungai dikecam banyak pihak. Seharusnya, polisi tidak memperlakukan ketiga guru tersebut layaknya pelaku kriminal berat.

Akan tetapi, dari pengakuan ketiganya, penggundulan itu tidak lain adalah atas permintaan mereka sendiri kepada polisi. Alasanya, agar mereka aman saat berada di dalam sel tahanan dan tidak menarik perhatian tahanan lain jika tidak gundul dan mereka takut di siksa sama penjahat lain nya yang ada di dalam sel penjara.

Demikian penjelasan salah satu guru berinisial IYA, 37, yang dibenarkan dua guru yang lain. “Digunduli ini memang permintaan kami. Pertama untuk faktor keamanan,” jelasnya saat mendapat kunjungan dari Tim LKBH PGRI seperti dikutip Aocrp-4.org (Aocrp-4.org Group) di Mapolres Sleman, Rabu (26/2).

Karena itu, ketiganya membantah bahwa penggundulan itu adalah inisiatif dari kepolisian. “Jika tidak gundul akan jadi perhatian, jika gundul pasti agak tersamar, sehingga agak tenang. Bagi kami tidak ada masalah,” tuturnya.

Pengakuan 3 Guru SMPN 1 Turi yang Digunduli Polisi

Mereka mengaku siap menjalani proses hukum dengan sebaik mungkin, sesuai dengan koridor hukum. Mereka juga menyatakan diperlakukan secara baik tidak ada permasalahan apa-apa, tidak diintimidasi dan tidak diperlakukan semena-mena. “Karena kami diperlakukan secara baik, mohon jika ada berita simpang siur di luar mohon diluruskan,” harap mereka.

Ketiganya juga menyampaikan terima kasih atas dukungan rekan-rekan seprofesi serta mohon dukungan secara koridor hukum melalui satu pintu melalui LKBH PGRI.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Arif Haryono menjelaskan, para tersangka menyatakan bahwa selama menjalani proses hukum mereka merasa tidak tertekan dan dintimidasi.

Ketiganya juga mengaku bahwa selama ini diperlakukan dengan baik oleh penyidik. Bahkan ketika penjaga tahanan datang selalu membesarkan hati dan memberikan support.

“Ini sudah menjadi risiko dan harus dipertanggungjawabkan. Pertama tanggungjawab kepada Allah, kedua kepada keluarga korban dan ketiga tanggungjawab kepada hukum,” ungkapnya.

Dibuat oleh – Aocrp-4.org

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *