Ritual Berdarah Masih Ada di Pulau Ibu Kota Baru

Ritual Berdarah Masih Ada di Pulau Ibu Kota Baru

 

aocrp-4.org – Ritual Berdarah Masih Ada di Pulau Ibu Kota Baru Budaya Suku Dayak Iban masih melestarian ritual mistik sampai saat ini di wilayah perbatasan RI-Malaysia satgas Pamtas Yonif Raider 301/Prabu Kian Santang bersama warga perbatasan meggelar acara tradisi di Desa Badau Kabupaten Kapuas Hulu,Kalimantan Barat dan di dalam pemindahan Ibukota baru

Dilaksanakan Tradisi ini, untuk menghibahkan lahan yang akan dijadikan tempat pemakaman Katolik Mumput Satu Badau.

Kegiatan tersebut diawali dengan upacara meletakkan telur ayam kampung dan pemotongan ayam

sebagai simbol masyarakat dayak Iban, serta dihadiri masyarakat dari berbagai profesi, suku dan agama.

Dansatgas Pamtas, Letkol Inf Andi Hasbullah mengatakan, dengan terselenggaranya kegiatan tersebut.

Satgas Pamtas dapat menyatu dengan berbagai lapisan masyarakat, dan serta melestarikan tradisi budaya yang ada di Kalimantan.

Dengan adanya ini maka kita akan sadar akan konsep Bhineka Tunggal Ika.

keanekargaman tersebut bisa menjadi warna yang indah bagi Indonesia, dan di manapun kita berada.

tetap dalam satu warna satu darah satu tanah yaitu kesatuan dan kedaulatan NKRI,Ujarnya.

“Banyak tradisi adat leluhur yang dimiliki Suku Dayak Iban di perbatasan.

di antaranya tradisi adat berdarah yang merupakan ritual kuno menghibahkan lahan untuk keperluan masyarakat umum,” kata dia menambahkan.

Sementara itu, Luter sebagai Kepala Adat Desa Badau

mengucapkan terima kasih kepada Satgas Pamtas Raider 301/Pks, yang senantiasa mendampingi kegiatan adat masyarakat di perbatasan.

Kegiatan dilanjutkan dengan memanggang hewan ternak, untuk kemudian dimakan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam keputusan pemerintah Indonesia Oleh Bapak Presiden yang di mana sudah di tetapkan

untuk Ibukota Indonesia akan segera di pindahkan ke Kalimantan Timur.

Karena Pulau Kalimantan juga termasuk lokasi bebas bencana gempa bumi dan tsunami.

Alasan-alasan ibu kota harus pindah ke luar Jawa. Salah satunya ialah

karena kontribusi ekonomi terhadap Produk Domestik Bruto Nasional tiap daerah tidak merata dan Pulau Jawa paling tinggi mencapai 58,48 persen.

Nilai kontribusi ini lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah lain, Seperti Pulau Sumatera yang sebesar 21,66 persen

Pulau Kalimantan 8,20 persen, Pulau Sulawesi 6,11 persen, Pulau Bali 3,11 persen, bahkan Pulau Papua yang hanya 2,43 persen.

Ritual Berdarah Masih Ada di Pulau Ibu Kota Baru 

Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk tertinggi dari total jumlah penduduk Indonesia yaitu mencapai 57 persen.

Sedangkan, daerah-daerah lain memiliki jumlah penduduk sangat rendah yaitu kurang dari 10 persen, kecuali Pulau Sumatera.

“Sekitar 57 persen penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa,

Lebih lanjut, menjamin keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan akan dituangkan dalam desain ibu kota

yang meminimalisasi intervensi terhadap alam dan mengintegrasikan ruang hijau dan biru.

Desain juga akan mempertahankan keberadaan hutan Kalimantan (city forest).

Pemerintah juga berencana memperbanyak ruang publik dan komunitas

mengadopsi konsep new urbanism dan green building, serta kualitas ruang yang mendorong kreativitas dan produktivitas.

Terakhir, guna mewujudkan kota yang cerdas, modern, dan standar internasional

maka ibu kota akan mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).

Langkah itu meliputi penataan bangunan dan lingkungan yang inklusif.

moda transportasi publik yang terintegrasi, dan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk meningkatkan produktivtas kerja.

Pemerintah juga akan menerapkan desain material dan teknologi modern

dan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan mengutamakan pemenuhan seluruh target SDGs sebagai acuan pembangunan kota Indonesia ke depan.

Di tulis Oleh – DIRGA aocrp-4.org

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *