Penangkapan Pungli ke Korban Tsunami Selat Sunda

Penangkapan Pungli ke Korban Tsunami Selat Sunda

Polda Banten menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda.Penangkapan Pungli ke Korban Tsunami Selat Sunda

“Kita telah menetapkan tiga tersangka setelah mendapatkan dua alat bukti,” kata Kabag Wasidik Ditreskrimsus Polda Banten AKBP Dadang Herli didampingi Kabid Humas Polda Banten AKBP Edy Sumardi di Serang

Menurut dia, ketiga tersangka pungli pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda yakni seorang aparatur sipil negara (ASN) berinisial F, dan dua karyawan sebuah perusahaan swasta berinisal I dan B.

Penangkapan Pungli ke Korban Tsunami Selat Sunda

Dia mengatakan, penetapan ketiga tersangka tersebut setelah penyidik melakukan pemeriksaan kepada lima saksi dan beberapa alat bukti seperti kuitansi tidak resmi yang dikeluarkan oleh tersangka F.

“Dokumen yang digunakan termasuk kuitansi tidak resmi dikeluarkan oknum ASN bersama dengan karyawan sebuah CV,” ujar Dadang.

Dia menuturkan, ketiga tersangka pungli pengurusan jenazah korban tsunami

Selat Sunda ini dijerat pasal 12 huruf E Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Ancaman pidana penjara seumur hidup, atau paling singkat empat tahun, dan denda paling sedikit 200 juta dan maksimal Rp1 miliar,” kata Dadang Herli seperti dilansir Antara.

Sebelumnya, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah membantah adanya dugaan

pungutan liar dalam pengurusan jenazah korban tsunami di Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP).

Mendengar informasi ada dugaan pungutan liar terhadap keluarga korban bencana tsunami di rumah sakit tersebut,

Ratu Tatu Chasanah langsung memanggil jajaran direksi dan manajemen RSDP

pada Rabu (26/12/2018) sore. Bahkan Tatu juga mendatangi RSDP pada Kamis (27/12/2018)

untuk mengecek langsung situasi dan berbagai dokumen di RSDP.

Pascatsunami menerjang, mobil ambulans dan mobil jenazah milik RSDP diturunkan

ke Kabupaten Serang dan Pandeglang untuk membawa korban ke fasilitas kesehatan.

“Kalau untuk pulang, mungkin keluarga korban menghubungi pihak ketiga,

bukan ambulans maupun mobil jenazah dari RSDP termasuk jika keluarga korban

membutuhkan peti jenazah, dipastikan membeli dari pihak ketiga, Karena RSDP tidak menyediakan

peti jenazah,” katanya.Penangkapan Pungli ke Korban Tsunami Selat Sunda

Tatu juga menjelaskan, terkait bukti kuitansi pembayaran dari keluarga korban,

dipastikan bukan resmi dari manajemen RSDP. Bahkan Ia mempersilakan kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

“Kami juga sudah bertemu dan rapat bersama dengan pihak kepolisian, karena ini soal kemanusiaan,” kata Tatu.

Tatu menilai, jika benar ada oknum yang melakukan pungli, maka sudah mencederai

citra RSDP sekaligus tidak menghargai para dokter dan tenaga kesehatan yang bekerja tanpa lelah dan ikhlas mengobati korban bencana tsunami.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *