Posko Dapur Dinas Sosial Banteng Didirikan Usai Tsunami Selat Sunda

Posko Dapur Dinas Sosial Banteng Didirikan Usai Tsunami Selat Sunda

Kepala Seksi Perlindungan Bencana Dinas Sosial Provinsi Banten Irma Mulyasari meminta masyarakat yang masih mengungsi di daerah yang cukup tinggi akibat tsunami Selat Sunda agar mendirikan dapur umum mandiri.Posko Dapur Dinas Sosial Banteng Didirikan Usai Tsunami Selat Sunda

Hal itu dinilai perlu untuk memenuhi kebutuhan makanan jika bantuan dari posko pusat di Kantor Kecamatan Labuan masih kurang. Merujuk dari penuturan warga Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, masih banyak warga yang mengungsi di wilayah bukit lantaran takut tsunami kembali terjadi.

Posko Dapur Dinas Sosial Banteng Didirikan Usai Tsunami Selat Sunda

“Kita berharap masyarakat terutama tempat – tempat yang menampung pengungsian agar mendirikan dapur umum mandiri untuk keperluan berbagai hal,” ucap Irma di Posko logistik yang berlokasi di Kantor Kecamatan Labuan, Pandeglang

Irma mengamini bahwa masih banyak warga yang mengungsi di daerah yang lebih tinggi.

Dia mafhum karena trauma sangat mungkin mengendap di benak mereka.

Meski begitu, bukan berarti Dinsos Banten lepas tanggung jawab. Irma menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengirim bantuan makanan ke berbagai titik pengungsian meski jauh sekalipun. Irma menganggap dapur umum mandiri perlu ada karena bantuan makanan kiriman dari dapur umum Kementerian Sosial bisa saja kurang memuaskan.

“Kita tetap kirim makanan. Mi, beras, gula, minyak goreng. Tikar dan pakaian juga. Macam-macam. Semuanya dari berbagai pihak. Ada LSM, BUMN, BUMD, instansi pemerintahan,” kata Irma.Posko Dapur Dinas Sosial Banteng Didirikan Usai Tsunami Selat Sunda

“Pendamping program keluarga harapan (PKH) juga ikut bantu ke daerah daerah karena mereka tahu persis medan di sana,” lanjutnya.

Terpisah, koki dapur umum Kemensos Eto mengatakan pihaknya memasak 6.000 porsi. Jumlah tersebut disediakan di setiap makan pagi, siang, dan malam.

“Semua porsi, 6 ribu itu, disebar ke posko posko dan titik pengungsian,” katanya.

Sebelumnya pengungsi korban tsunami Selat Sunda di Desa Tanjungjaya, Pandeglang, Banten masih membutuhkan banyak bantuan. Saat ini, para pengungsi kekurangan selimut, alas tidur, hingga makanan untuk bayi dan balita.

“Sejak tadi malam sudah banyak bantuan yang masuk dari dalam dan luar Banten. Tapi, setelah melihat kondisi di posko, para pengungsi masih membutuhkan selimut, alas tidur, makanan untuk bayi seperti susu dan makanan pendamping ASI juga minim,” kata relawan Dompet Dhuafa Banten Farhan Ilahi yang bertugas di posko utama di Desa Tanjungjaya

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *